HUBUNGAN ANTARA GEJALA KLINIS MALARIA DENGAN PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS POSITIF MALARIA DI PUSKESMAS KARANGMONCOL, KECAMATAN KARANGMONCOL, KABUPATEN PURBALINGGA
Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyakarat utama di seluruh dunia. Dalam buku The World Malaria Report 2005, Badan Kesehatan Dunia (WHO), menggambarkan walaupun berbagai upaya telah dilakukan, hingga tahun 2005 malaria masih menjadi masalah kesehatan utama di 107 negara di dunia. Penyakit ini menyerang sedikitnya 350-500 juta orang setiap tahunnya dan bertanggung jawab terhadap kematian sekitar 1 juta orang setiap tahunnya. Diperkirakan masih sekitar 3,2 miliar orang hidup di daerah endemis malaria. Malaria juga bertanggung jawab secara ekonomis terhadap kehilangan 12% pendapatan nasional dari negara-negara yang memiliki permasalahan malaria.
Sampai saat ini malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dimana hampir seluruh wilayahnya daerah endemis malaria. Malaria dapat menimbulkan beban sakit dan kematian serta mengakibatkan dampak sosial-ekonomi, khususnya bagi penduduk miskin di daerah endemis malaria (Depkes, 2003). Survai kesehatan nasional tahun 2001 mendapati angka kematian akibat malaria sekitar 8-11 per 100.000 orang per tahun. United Nation Development Program (UNDP, 2004) juga mengklaim bahwa akibat malaria, Indonesia sedikitnya mengalami kerugian ekonomi sebesar $ 56,6 juta per tahun. Persentase penderita malaria pada tahun 2005 untuk Nasional sebesar 13,4%, sedangkan di Provinsi Jawa tengah sebeasr 1,12% dan di Kabupaten Purbalingga sebesar 0,13% (Bappenas, 2006).
Penduduk yang terancam malaria pada umumnya adalah penduduk bertempat tinggal di daerah endemis malaria baik daerah yang kategori daerah endemis malaria tinggi dan daerah endemis malaria sedang diperkirakan ada sekitar 15 juta (Depkes RI, 2001).
Peranan keendemikan (endemisitas) malaria, migrasi penduduk yang cepat, serta berpindah-pindah (traveling) dari daerah endemis, secara tidak langsung mempengaruhi masalah diagnostik klinis malaria. Perubahan gambaran morfologi parasit malaria, serta variasi galur (strain), yang kemungkinan disebabkan oleh pemakaian obat antimalaria secara tidak tepat (irasional), membuat masalah yang semakin sulit terpecahkan. Sementara disisi lain terdapat keterbatasan kemampuan kurang terlatihnya tenaga pemeriksa (peteknik laboratorium) yang dapat membaca preparat dengan benar menimbulkan kendala dalam memeriksa parasit malaria secara mikroskopis yang selama ini merupakan standar emas (gold standard) dalam pemeriksaan laboratoris malaria (Moody, 2002; Kakkilaya, 2003; CDC, 2004). Hal ini menimbulkan kesulitan penangananan penyakit malaria secara cepat dan tepat. Adanya kepentingan untuk mendapatkan diagnosis yang cepat pada penderita yang diduga menderita malaria merupakan tantangan untuk diagnosis dini malaria.
Kabupaten Purbalingga adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang termasuk dalam kategori daerah endemis malaria. Kendala yang dihadapi dalam pengobatan malaria di Kabupaten Purbalingga, diawali dengan kesulitan mendapatkan diagnosis dini, keterlambatan mendapat pengobatan bagi penderita dikarenakan beberapa wilayah kecamatan dan desa di Kabupaten Purbalingga merupakan wilayah terisolir, tidak tepatnya regimen dan dosis, resistensi terhadap obat anti malaria dan belum adanya obat anti malaria yang ideal. Kecamatan Karangmoncol merupakan bagian dari daerah endemis malaria di Kabupaten Purbalingga (Dinkes Purbalingga, 2008).
Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :
HUBUNGAN ANTARA KADAR HAEMOGLOBIN ( Hb ) DENGAN PRESTASI BELAJAR PELAJAR PUTRI DI SMP BOROBUDUR KABUPATEN MAGELANG
Latar Belakang
Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya peningkatan kualitas SDM dimulai dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang anak sejak pembuahan sampai dengan dewasa muda. Pada masa tumbuh kembang ini, pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti perawatan dan makanan bergizi yang diberikan dengan penuh kasih sayang dapat membentuk SDM yang sehat, cerdas dan produktif (Direktorat Gizi Masyarakat, 2002).
Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kurang gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunkan produktifitas, menurunkan daya tahan, meningkatkan kesakitan dan kematian. Kecukupan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu, sejak janin yang masih di dalam kandungan, bayi, anak-anak, masa remaja, dan dewasa sampai usia lanjut. Ibu atau calon ibu merupakan kelompok rawan, karena membutuhkan gizi yang cukup sehingga harus dijaga status gizi dan kesehatannya, agar dapat melahirkan bayi yang sehat (Direktorat Gizi Masyarakat, 2003).
Upaya perbaikan gizi masyarakat yang dilaksanakan secara intensif selama 30 tahun terakhir telah dapat menurunkan prevalensi beberapa masalah gizi utama, khususnya kurang energi protein (KEP), kurang energi kronis (KEK), gangguan akibat kurang yodium (GAKY), kurang vitamin A (KVA) dan anemi gizi. Namun sampai saat ini anemi gizi masih merupakan masalah gizi utama yang diderita oleh ibu hamil dan wanita pada umumnya. Anemi pada ibu hamil meningkatkan resiko terjadinya keguguran, lahir sebelum waktunya, melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), lahir mati dan kematian prenatal. Ibu hamil yang menderita anemia berat dapat mengalami kegagalan jantung, yang dapat menimbulkan kematian (WHO, 2000).
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN. Angka Kematian Ibu sudah menurun dari 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 343 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 (SDKI). Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, menunjukkan bahwa secara nasional prevalensi anemia masih tinggi yaitu pada ibu hamil 50,9 %, ibu nifas 45,15 % , remaja putri usia 10 – 14 tahun sebesar 57,1 % dan pada wanita usia subur (WUS) adalah 39,5 % (Direktorat Gizi Masyarakat, 2003).
Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. Kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menimbulkan gejala lesu, lemah, letih, lelah, dan cepat capai. Akibatnya dapat menurunkan prestasi belajar, olahraga, dan produktifitas kerja. Di samping itu daya tahan tubuh penderita kekurangan zat besi akan menurun, selanjutnya penderita mudah terkena infeksi (Direktorat Gizi Masyarakat, 2003).
Anemia disebabkan kurangnya zat besi atau Fe dalam tubuh. Hal ini karena masyarakat Indonesia khususnya wanita kurang mengkonsumsi sumber makanan hewani yang merupakan sumber zat besi yang mudah diserap (heme-ion). Sebagian bahan makanan nabati (non heme-ion) merupakan sumber zat besi yang tinggi tetapi sulit diserap, sehingga dibutuhkan porsi yang besar untuk mencukupi kebutuhan zat besi dalam sehari. Jumlah tersebut tidak mungkin terkonsumsi (Direktorat Gizi Masyarakat, 2003).
Kebutuhan zat besi pada wanita tiga kali lebih besar dari pada kebutuhan pria. Hal ini antara lain karena wanita mengalami haid setiap bulan yang berarti kehilangan darah secara rutin dalam jumlah yang cukup banyak. Hal ini yang memperberat terjadinya anemia pada wanita adalah sering melakukan diet pengurangan berat badan karena faktor ingin langsing/kurus. Sehingga seringkali wanita memasuki masa kehamilannya dengan kondisi dimana cadangan zat besi dalam tubuhnya kurang atau terbatas (Direktorat Gizi Masyarakat, 2003).
Program penanggulangan anemia gizi pada WUS mempersiapkan kondisi fisik wanita sebelum hamil agar siap menjadi ibu yang sehat dan pada waktu hamil tidak menderita anemia, sedangkan pada usia remaja putri diutamakan mengkonsumsi makanan bergizi yang seimbang agar dalam masa pertumbuhan dapat terpenuhi zat besi dalam darah sehingga dalam proses belajar tidak mengalami gangguan (Direktorat Gizi Masyarakat, 2003)
Survei data dasar pada 10 Kabupaten di Jawa Tengah pada tahun 1998 menunjukkan angka prevalensi anemia lebih tinggi dari angka nasional yaitu pada remaja putri (SLTP dan SMU) sebesar 57,4% (Direktorat Gizi Masyarakat, 2003). Menurut Hastuti dkk, (1998), di Kabupaten Magelang prevalensi anemia diketahui sebesar 48,7 %. Hal ini dikarenakan adanya gangguan metabolisme oksidatif otak diakibatkan oleh rendahnya kandungan hem dan enzim ion dependent yang menimbulkan perubahan perilaku.
Berdasarkan masalah tersebut di atas, maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian tentang ” Hubungan antara kadar Hb dengan prestasi pelajar putri SLTP Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang ”.
Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :
HUBUNGAN ANTAR PENGETAHUAN GIZI REMAJA PUTRI DAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI DI SLTP NEGRI II SEWON BANTUL,YOGYAKARTA
Latar belakang
Undang-undang kesehatan nomor 23 tahun 1992 yang memuat tujuan pembangunan kesehatan Bangsa Indonesia merupakan upaya unuk meningkatkan kesehatan secara produktif melalui paradikma sehat dengan harapan dalam jangka waktu panjang dapat mendorong masyarakat untuk bersifat mandiri menjaga kesehatanya (Depkes RI, 2003).
Pada saat ini masalah Gizi masih merupakan beban berat bagi bangsa hakekatnya berpangkal dari keadaan ekonomi dan pengetahuan masyarakat tentang nilai gizi makanan, sehingga berpengaruh pada daya beli dan prilaku masyarakat yang dapat menurunkan status gizi (Irianto, 2007) menurunkan status gizi dilihat dari timbulnya berbagai kasus gizi buruk dan busung lapar sehingga harus ditanggulangi secara benar, tepat serta cepat melalui tindakan kuratif, dan rehabilitatif agar tidak terjadi korban jiwa.
Usia remaja merupakan usia peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa. Pada remaja putri, perubahan itu ditandai mulainya menstruasi. Dari tinjaun sudut ilmu masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan manusia, pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan, perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya, ketidak seimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi baik itu gizi lebih ataupun gizi kurang. (Permaisih, 2003).
Status gizi baik diusia remaja sangat diperlukan terutama remaja putri agar dimasa kehamilannya nanti sehat dan pertambahan berat badannya adekuat, tetapi hal itu seringkali diabaikan guna menjaga penampilannya dan bentuk tubuh pengetahuan tentang bagaimana cara menghitung kebutuhan energi dan protein sangat diperlukan agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan asupan. Kebutuhan energi dan protein bagi remaja putri usia 12-18 tahun berkisar antara 2200-2500 kkal dan protein sekitar 44.55-47.8 gram (Arisman, 2004).
Nutrisi pada remaja tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan makan. Kebiasaan makan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh perhatian akan penampilan tubuhnya. Usaha remaja putri menjadi langsing dilakukan melalui makan makanan yang tidak cukup bergizi. Makanan dipilih umumnya tidak banyak mengandung energi. Selain itu umumnya remaja putri malas makan, terutama makan pagi, dengan alasan agar badan tetap langsing. Kebiasan makan yang kurang benar dapat mempengaruhi masukan makanan dan akhirnya status gizi juga ikut terpengaruh. (Muniroh, 2002)
Adanya perubahan-perubahan yang menyebabkan kebutuhan zat gizi pada kelompok usia remaja bertambah, kebutuhan gizi remaja merupakan kebutuhan gizi tinggi dalam kehidupan seseorang. Kebutuhan gizi yang tinggi merupakan efek kombinasi dari pertumbuhan yang cepat dan tingkat aktifitas remaja yang umumnya tinggi. Oleh karena itu kebutuhan-kebutuhan zat gizi pada usia remaja perlu diperhatikan agar tidak terjadi penyakit akibat kekurangan gizi (Muniroh, 2002).
Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat, misalnya penurunan konsentrasi belajar, resiko melahirkan bayi dengan BBLR, penurunan kesegaran jasmani, banyak penelitian telah dilakukan menunjukkan kelompok remaja menderita/mengalami banyak masalah gizi tersebut antara lain anemia dan indeks massa tubuh (IMT) kurang dari batas normal atau kurus. Prevalensi anemia berkisar antara 40%-80% sedangkan prevalensi remaja dengan IMT kurus berkisar antara 30%-40%.(Permaisih, 2003).
Berdasarkan penelitaian di Jombang Jawa Barat data susenas 1999, prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada remaja di Indonesia umumnya dipedesaan Prevalensi gizi buruknya sebesar 12,86% dan gizi kurang sebesar 31,22% (Muniroh, 2002). Dalam studi yang dilakukan pada tahun 2003 yang melibatkan 4.747 siswa /siswi SLTP kota Yogyakartadan 4.602 siswa/siswi SLTP Kabupaten Bantul ditemukan bahwa 7,8% remaja dikota Yogyakarta dan 2% remaja kabupaten bantul mengalami obesitas.
Sekolah lanjutan tingkat pertama negri II Sewon Bantul merupakan sekolah lanjutan, menurut survey yang dilakukan peneliti pada bulan Januari 2008 dan dilakukan studi pendahuluan pada 15 siswi di SLTP N 2 Sewon Bantul di dapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan tentang gizi ramaja masi kurang. Karena dari 15 siswi hanya 3 siswi yang bisa menjawab pertanyaan peneliti dan dari hasil pengukuran Antopometri dari 15 siswi didapat 3% dari 15 siswi mengalami gizi kurang.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti ingin melakukan penelitian mengenai. ”Hubungan antara pengetahuan tentang gizi remaja putri dan status gizi remaja putri di SLTP Negri 2 Sewon Bantul, Yogyakarta”.?
Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :
Visi pembangunan Indonesia adalah Indonesia sehat 2010 dimana pada 2010 diharapkan bangsa Indonesia hidup dalam lingkungan yang sehat, berprilaku hidup bersih dan sehat serta mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata sehingga memiliki derajad kesehatan yang tinggi.
Tingginya angka kematian ibu dan bayi menunjukkan rendahnya kualitas pelayanan kesehatan dalam rangka menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan balita di Indonesia perlu adanya pendekatan dan memperluas jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan adamya penempatan bidan, terutama di daerah-daerah yang jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan dalam bentuk pelayanan yang bersifat promotif, preventif dengan tidak mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif sesuai dengan kewenangan dan harus mampu menggerakkan peran serta masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sesuai dengan kebijakan Safe Mother Hood (SMH) dan prinsip Primary Health Care (PHC).
Dalam rangka mewujudkan Indonesia sehat 2010 seperti yang tercantum dalam rencana pembangunan jangka panjang menengah 2004-2009 sasaran yang ingin dicapai oleh pembangunan kesehatan adalah meningkatkan umur harapan hidup, menurunkan angka kemtian ibu dan bayi dan menurunkan prevalensi gizi kurang pada anak balita. Untuk mencapai hal tersebut, Departemen Kesehatan menetapakan visi masyarakat sehat yang dicapai dengan menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan meningkatkan system surveilans, monitoring, informasi kesehatan dan meningkatkan pembiayaan. Berkaiatan dengan strategi di atas sasaran yang ingin dicapai adalah pada akhir tahun 2008 seluruh desa telah menjadi desa siaga. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Adapun tujuan dari penyelenggaraaan desa siaga adalah meningkatkan pengetahuan kesadaran masyarakat desa akan pentingnya kesehatan meningkatkan kewaspadaaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap resiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat, meningkatnya kesehatan lingkungan di desa serta meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa menolong diriny sendiri di bidang kesehatan. Kriteria sebuah desa menjadi desa siaga adalah apabiala desa tersebut memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yang diselenggarakan olah bidan.
Kesehatan masyarakat merupakan salah satu pilar pembangunan nasional Indonesia untuk itu STIKES RESPATI sebagai salah satu institusi pendidikan tenaga kesehatan sangatlah perlu untuk mendalami mengenai factor-faktor yang menyebabkan kejadian kesakitan di masyarakat. Kesehatan masyarakat dipengaruhi berbagai factor untuk itulah perlu dilakukan pengkajian secara komperehensif dalam kehidupan masyarakat sehingga dapat diketahui penyebab terjadinya kesakitan dan factor yang mempengaruhinya. Tenaga kebidanan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang menjadi ujung tombak institusi kesehatan pemerintah dalam masyarakat untuk mendukung program kesehatan yang diselenggarakan pemerintah Indonesia dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Dalam rangka peningkatan kompetensi dan kemampuan analisa penyebab kejadian kesakitan dan upaya peningkatan kesehatan masyarakat oleh dosen dan mahasiswa, maka perlu diadakan kegiatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa ( PKMD) bagi mahasiswa Program Studi D III Kebidanan. Sebagai calon ahli madya kebidanan harus memiliki kompetensi yang cukup sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya melalui praktek lapangan komunitas untuk mendukung program pemerintah. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengkajian sekaligus pembinaan terhadap masyarakat secara individu sehingga diperoleh permasalahan-permasalahan kesehatan dalam masyarakat dan upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan tersebut.
Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :
HUBUNGAN HIGIENIS PERORANGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI RUMAH SAKIT PENYANGGA PERBATASAN BETUN KABUPATEN BELU - NTT
Tujuan pembangunan Kesehatan sesuai dengan sistem Kesehatan Nasional adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan yang optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum (Depkes RI, 1999). Menurut Undang – Undang Kesehatan No 23 tahun 1992 pasal 10, untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, maka diselenggarakan pelayanan kesehatan dengan pendekatan, pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (Depkes RI,2000).
Semakin berkembangnya IPTEK yang diikuti dengan banyaknya penyakit berbasis lingkungan yang sedang terjadi di Indonesia yang disebabkan karena kurangnnya pemahaman dan perilaku manusia terhadap kebersihan belum baik. Selain itu kurangnnya pegawasan terhadap makanan yang dimakan anak saat diluar rumah dan pengetahuan orang tua terhadap bahaya penyakit berbasis lingkungan masih rendah. Hal ini menyebabkan anak sakit, orang tua kurang memahami penyakit dan tatalaksana terhadap penyakit tersebut (Widjaja,2001).
Pada umumnya masalah penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan terbesar di Indonesia baik dikarenakan masih buruknya kondisi sanitasi dasar, lingkungan fisik maupun rendahnnya perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Dalam hal sanitasi, mareka masih memanfaatkan ’’ Toilet Terbuka’’ yang biasanya terletak di kebun, pinggir sungai, atau empang. Perilaku semacam itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, anatara lain faktor ekonomi karena untuk membuat septic Tank diperlukan biaya. Tidak tersediannya septic tank umum dan layanan yang baik unutk penyedotannya. Buang air besar ditempat terbuka (suangai atau empang) telah menjadi kepraktisan dan dilakukan banyak orang disekitarnya (Widjaja, 2001)
Kebersihan lingkungan merupakan suatu yang berpengaruh terhadap kesehatan pada umumnya. Banyaknya penyakit – penyakit lingkungan yang menyerang masyarakat karena kurang bersihnya lingkungan disekitar ataupun kebiasaan buruk yang mencemari lingkungan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan penyakit yang dibawa oleh kotoran yang ada di lingkungan bebas tersebut baik secara langsung ataupun tidak langsung yaitu melalui perantara. Penyakit diare merupakan suatu penyakit yang telah dikenal sejak zaman Hippocrates. Sampai saat ini, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama masyarakat Indonesia. Dari urutan penyebab kunjungan Puskesmas / balai pengobatan, diare hamper selalu termasuk dalam kelompok 3 (tiga) penyebab utama masyarakat berkunjung ke Puskesmas (Judarwanto,2005)
Kecenderungan mengkonsumsi makanan yang keamanannya belum terjamin mengakibatkan sering muncul kasus – kasus keracunan atau timbulnya penyakit. Berdasarkan analisis, 60% kejadian keracunan makanan berasal dari jasa boga atau makanan. Tercatat ada sekitar 54 kasus keracunan makanan sepanjang bulan Januari – Agustus 2004. Dari kasus – kasus tersebut 3.034 orang diantarnya sakit dan 14 orang meninggal dunia. Dua kasus keracunan ini bersumber dari makanan jajanan dan sembilan kasus diantaranya terjadi di sekolah. Makanan yang terpapar racun ini adalah susu yang sudah kadaluarsa, es dan minuman yang menggunakan pewarna tekstil dan pemanis buatan, Bakso yang mengandung formalin dan Boraks (Sampurno, 2004).
Selain itu diare juga dapat terjadi karena gaya hidup yang tidak sehat. Misalnya tidak mencuci tangan saat makan, makan makanan dengan tidak memperhatikan kebersihannya juga kuman yang terbawa lewat kuku yang tidak dipotong (Sampurno, 2004)
Fakta ini seolah mengatakan bahwa kesadaran penduduk Indonesia akan kesehatan teramat minim. Dan bukan tidak mungkin bahwa kesadaran yang minim tersebut disebabkan oleh tingkat pengetahuan yang kurang tentang diare, serta pencegahannya. Diare yang disertai gejala buang besar terus menerus muntah dan kejang perut kerap dianggap biasa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu pertolongan medis (Judarwanto, 2005).
Tentang penatalaksanaan dan pencegahan diare, peran orang tua yang paling penting. Tingkat pengetahuan orang tua tentang diare sangat berpengaruh terhadap penatalaksaan dan pencegahan terhadap diare itu sendiri. Pengetahuan orang tua dengan kejadian diare dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti media masa, penyuluhan yang dilakukan tim kesehatan lingkungan maupun sumber lainnya. Selama ini persepsi yang sering muncul dimasyarakat tentang diare adalah karena proses pembuangan zat – zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh dan tidan memerlukan penanganan karena akan sembuh dengan sendirinya. Atau mungkin juga muncul juga persepsi jika tidak kunjung sembuh dari diare , maka orientasi seseorang menginginkan segera dapat baung air besar secara normal tanpa memperhitungkan akibat buruk dari obat diare yang tidak sesuai penggunaannya (Widjaja, 2001)
Jhon (2005) mengemukakan hasil penelitian dari Badan Pegawas Obat dan Makanan yang menyebutkan bahwa dari 120 sampel makanan yang diuji ada tujuh Kbupaten, sebanyak 80 sampel atau 50%nya tidak memenuhi mutu keamanan. Badan POM NTT menemukan nlebih dari 70% makanan menggunakan pemanis buatan.
Kecenderungan mengkonsumsi makanan diluar rumah atau jajanan yang keamanannya belum terjamin merupakan fakor utama penyebab utama keracunan atau diare (Sampurno, 2004)
Ada bermacam – macam penyebab diare misalnya infeksi, kurangnya kebersihan makanan, kurangnya higienis perorangan. Higienis perorangan meliputi banyak hal diantaranya kebiasaan makan lalapan, kebiasaan mencuci tangan dan kebiasaan mandi. Berdasarkan uraian diatas maka penulis bernaksud untuk mengetahui hubungan antara higienis perorangan dengan kejadian diare.
Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :
TATA CARA PEMESANAN SKRIPSI - TESIS LENGKAP
DAFTARKAN FORMULIR VERIFIKASI PESANAN
Selanjutnya Kirim SMS ke 0856 2926 356 . Format Isi pesan : "Judul _ spasi _Sumber: [Sendrooms] atau [paNRoom]"
BIAYA DONASI PEMBAYARAN
Setelah biaya pemesanan dibayar, anda harus melakukan konfirmasi melalui SMS ke 0856 2926 356 bahwa anda telah melakukan transfer ke Bank BNI No.Rek.0184 734 644 , atas Nama Herry dan Sertakan Alamat Email Anda (PEMESAN) sebagai tujuan pengiriman file skripsi yang akan kami tuju.
File skripsi akan segera dikirimkan ke alamat email anda, setelah proses pembayaran dan konfirmasi SMS telah kami terima.
DAFTAR FORMULIR /Sign up Now / REGISTER NOW untuk pendaftaran secara GRATISS .....
Job at home
Whether you are looking for a succeed work at home or whether you dream about getting income online; yes, in the end, you located it!
Have economic independence
No computer skills needed. You can be completely new to manage our system - you don't need ANY experience. This is actually easy.
You may stay at room and work at your free time. Even if you don't have pc you may do this work in Online cafe or on Internet cell phone.
How it works?
We design a online-shop for you with ready to operate e-commerce solution. Your work is very simple; you have to submit material about your web-store to the Internet directories. We will provide you with very simple step-by-step instruction how to do this. The typical instruction requests you to open a web site and fill in a form with data regarding your internet-store and software.
You will be paid from US $20.00 to US 180.00 for any purchase which is comes via your web-shop.
There is no restriction for your revenue. No matter where you live your commissions are 100% guaranteed.
Sign up Now...Register now to get economic freedom. All you need is the simple: register now and havepersonal internet company!