HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PERAWATAN BAYI BBLR DENGAN TINGKAT KECEMASAN DI RUANG RAWAT GABUNG DAN RUANG NIFAS RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Salah satu kebijakan pembangunan yang diamanatkan dalam GBHN (1999) yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia. Upaya tersebut dimulai sejak janin dalam kandungan. Hal tersebut sangat tergantung pada kesejahteraan ibu termasuk kesehatan dan keselamatan reproduksinya. Oleh karena itu kesehatan ibu dan anak di Indonesia merupakan salah satu program prioritas.
Di dalam rencana strategi Nasional, Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010 disebutkan bahwa konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. Visi MPS adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat. Salah satu sasaran yang ditetapkan tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian bayi di Indonesia dari 52 per 1000 kelahiran hidup menjadi 16 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan efektivitas pelayanan kesehatan suatu negara ditentukan oleh Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) (Wiknjosastro, 2002).
Menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003 AKB di Indonesia adalah 35 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan AKB yang ingin dicapai pada tahun 2010 adalah 16 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan SDKI ini, Indonesia menduduki urutan ke enam dari negara-negara ASEAN dengan AKB terendah. Lima negara ASEAN yang memiliki AKB terendah yaitu Singapura 3 per 1. 000 kelahiran hidup, Brunei 8 per 1. 000 kelahiran hidup, Malaysia 10 per 1. 000 kelahiran hidup, Vietnam 18 per 1. 000 kelahiran hidup, Thailand 20 per 1. 000 kelahiran hidup (Biro Pusat Statistik, 2005).
Bayi BBLR merupakan masalah kesehatan yang penting di negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut WHO angka kejadian BBLR lebih dari 10% merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian. BBLR merupakan penyebab utama kematian bayi usia 0-1 bulan di Indonesia. Kematian bayi di usia ini merupakan seperempat dari keseluruhan kematian balita di Indonesia selama tahun 1980. Menurut Manuaba (2002) kematian BBLR sebagai penyebab kematian perinatal sebesar 25-30%.
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa resiko kematian bayi baru lahir rendah mengikuti deret ukur. Semakin rendah berat lahir maka semakin tinggi resiko kematiannya (Kodim, 1993; Depkes RI, 2005).
BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram, tanpa memandang usia gestasi. Frekuensi BBLR di negara maju antara 3, 6-10, 8%, di negara berkenbang berkisar antara 10-43%. Rasio antara negara maju dan negara berkembang adalah 1: 4 (Mochtar, 2002).
Bayi dengan BBLR mengakibatkan 70% kematian neonatal dini, semakin kecil berat bayi semakin kecil kemungkinan kelangsungan hidupnya. Beberapa bayi dengan berat 500 gram atau kurang dapat terus hidup, 25% bayi dengan berat 502-720 gram dapat hidup, 50% pada bayi dengan berat badan 751-1. 000 gram. Bayi dengan berat 1. 001-1. 500 gram mempunyai kemungkinan hidup terus 75% dan yang mempunyai berat badan 1. 500-2. 499 gram mempunyai angka kemungkinan hidup 90-95% ( Llewellyn, 2000 ).
Penyebab utama dari kematian bayi di Indonesia menurut data Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT, 2001) adalah sebanyak 29% disebabkan oleh BBLR <27% disebabkan oleh asfiksia atau kesulitan bernapas, dan sisanya akibat infeksi dan sebab lain. Selain itu ada faktor yang melatarbelakangi tingginya Angka Kematian Bayi yaitu pengetahuan masyarakat, budaya, norma, sosial, ekonomi dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Ada beberapa faktor resiko terjadinya BBLR yaitu faktor sosioekonomi (meliputi umur ibu, berat badan ibu), faktor riwayat kebidanan (meliputi riwayat BBLR, anemia), faktor kehamilan sekarang (meliputi hipertensi dalam kehamilan, perdarahan antepartum dan kehamilan multiple) dan faktor janin (meliputi defek kongenital dan infeksi intra uteri) (Llewellyn, 2002). Penyebab bayi baru lahir rendah yang terpenting di negara yang sedang berkembang adalah hambatan pertumbuhan janin dalam rahim (83%) dan premature (17%). Sedangkan penyebab hambatan pertumbuhan janin dalan rahim 40-45% disebabkan oleh faktor nutrisi ibu yang buruk saat hamil. Oleh karena itu berbagai upaya preventive bayi berat rendah pada prinsipnya ditujukan pada pengendalian faktor resiko kurang gizi, penyakit infeksi, kerja berat dan stress. Adapun faktor-faktor yang merupakan prediposisi terjadinya bayi baru lahir rendah adalah faktor ibu, faktor janin, keadaan sosial ekonomi yang rendah, dan faktor yang tidak diketahui. Faktor dari ibu yang beresiko dalam kehamilan yang bisa menyebabkab kejadian BBLR ada yang disebut dengan ” 4 terlalu” yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak dan terlalu sering. Terlalu muda, yaitu usia ibu saat hamil <20 tahun dan terlalu tua > 35 tahun, terlalu banyak (hamil > 3), terlalu sering (jarak kehamilan <2 tahun) (Depkes, 2002). Apabila IMR di suatu wilayah tinggi menunjukkan bahwa status kesehatan tersebut rendah. Data yang ada saat ini memperlihatkan bahwa status kesehatan anak di Indonesia masih merupakan masalah yang serius. Angka kematian bayi masih tinggi yaitu sebesar 66,4 per1000 kelahiran hidup dan 35,9 % anak yang lahir mempunyai risiko tinggi dan mengarah pada kesakitan maupun kematian bayi (Litbang Depkes, 2007).. Angka kematian bayi menurut Dinkes Kabupaten Klaten (2007) mencapai 288 per 1000 kelahiran hidup dengan data masing-masing kasus BBLR 43 kasus (14,9%), asfiksia 73 kasus (25,3%), IUFD 55 kasus (19,1%), sepsis 12 kasus (4,2%), jantung 6 kasus (2,1%), hipotermi 2 kasus (0,7%). Hasil studi pendahuluan di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro pada tahun 2007 angka kejadian BBLR adalah 338 kasus dari 1764 total persalinan. Penyebab BBLR sampai saat ini masih terus dikaji. Beberapa studi menyebutkan penyebab BBLR multi faktor, antara lain faktor demografi, gizi, periksa hamil, dan paparan toksik seperti merokok. Bayi-bayi berat lahir rendah mempunyai kemungkinan yang lebih tinggi untuk meninggal dunia sebelum berumur satu tahun 17 kali lebih besar daripada dengan berat lahir normal. Akibat ekstrim untuk masalah BBLR, sampai saat ini masih banyak ditemukan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah akan mengalami banyak masalah dan pada akhirnya dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi (Setyowati dkk, 1999). BBLR lebih sering terjadi pada ibu-ibu yang mempunyai status ekonomi rendah dan status gizi buruk. Saat hamil mempunyai riwayat hipertensi, infeksi virus atau penyakit lainnya, atau menggunakan obat-obatan secara ektensif sebelum dan selama hamil. BBLR yang disebabkan oleh kelahiran premature sering dikaitkan dengan kehamilan ganda atau rendahnya pertambahan berat badan selama hamil (< 7 kg) atau berlebihan (> 16 kg), perokok, alkoholik, dan yang lainnya (Jumirah dkk, 2002).
Pengetahuan ibu mengenai perawatan bayi berat badan lahir rendah merupakan sarana yang sangat menolong orang tua. Mereka membutuhkan informasi peralatan dan tindakan perawatan terhadap bayi tersebut, sehingga ibu akan ikut berpartisipasi dalam perawatannya, serta mampu menghadapi kenyataan secara fisik maupun emosional. Dengan demikian diharapkan peran serta keluarga terutama ibu dalam pembentukan ikatan kasih sayang, yang memberikan rasa aman pada bayi. Perawat memberikan kesempatan pada orang tua untuk mengidentifikasi bayi antara kenyataan dengan harapannya selama ini, akan berpengaruh pada hubungan orang tua dan bayinya di masa datang.
Kurang pengetahuan ini menyebabkan masalah respon-respon berupa kecemasan pada ibu. Kecemasan ini dapat berupa ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu tidak menyenangkan karena anaknya mengalami BBLR. Ibu mungkin mengalami suatu krisis. Ibu akan mulai merasa ketakutan dan membayangkan hal-hal yang negatif tentang sesuatu yang akan menimpa anaknya. Ibu mengalami ketakutan akan kehilangan anak sebagai akibat kurang pengetahun dalam merawat anaknya yang memiliki kondisi tidak sempurna. Di lain pihak, penundaan kontak antara ibu dan bayi yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu akan menimbulkan stres baik pada ibu maupun bayi, dan akan mempengaruhi peran ibu dalam perawatan lanjutan di rumah (Barbara, 1999).



Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :



Read more


HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN KEMAMPUAN MOBILISASI DINI PADA IBU NIFAS HARI PERTAMA DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pembangunan di bidang kesehatan harus dilaksanakan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional, karena pada dasarnya pembangunan nasional di bidang kesehatan berkaitan erat dengan peningkatan mutu sumber daya manusia yang merupakan modal dasar dalam melaksanakan pembangunan. Salah satu indikator untuk menentukan derajat kesehatan suatu bangsa ditandai dengan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan bayi. Hal ini merupakan suatu fenomena yang mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan (Saleha,2009: 1).
Mencapai tingkat kesehatan bagi ibu-ibu yang baru melahirkan (nifas), bayi dan keluarga serta masyarakat, asuhan masa nifas merupakan salah satu bidang pelayanan kesehatan yang harus mendapat perhatian baik oleh petugas kesehatan seperti dokter kebidanan, bidan dan perawat maupun ibu itu sendiri (Maryunani, 2009: 1 ). Masa nifas merupakan hal penting untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Dari berbagai pengalaman dalam menanggulangi kematian ibu dan bayi di banyak negara, para pakar kesehatan menganjurkan upaya pertolongan difokuskan pada periode intrapartum. Upaya ini terbukti telah menyelamatkan lebih dari separuh ibu bersalin dan bayi baru lahir yang disertai dengan penyulit proses persalinan atau komplikasi yang mengancam keselamatan jiwa. Namun, tidak semua intervensi yang sesuai bagi suatu negara dapat dengan serta merta dijalankan dan memberi dampak menguntungkan bila diterapkan di negara lain (Saleha,2009: 2).
AKI di negara maju berkisar 5-10 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di negara berkembang berkisar antara 750-1000 kelahiran hidup (Wiknjosatro, 2006: 23). Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi, eklamsi, dan komplikasi persalinan (Saifuddin, 2002: 6).
Badan World Health Organization Coalition For Improving Maternity Services (CIMS) melahirkan Safe Motherhood Intiative yang merumuskan asuhan sayang ibu, sehingga bidan sebagai tenaga kesehatan berperan penting terhadap masalah kecemasan terutama dalam memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif baik psikososial maupun spiritual kepada pasiennya dan dapat mengidentifikasi timbulnya komplikasi dengan mengenali tanda maupun gejala lebih awal.
Kebijakan pemerintah dalam hal ini adalah dengan Gerakan Sayang Ibu (GSI) yang dirancangkan oleh presiden Republik Indonesia pada peringatan hari ibu ke 68 tahun 1996 salah satu programnya meningkatkan cakupan pelayanan nifas 90%, dukungan informative, mental dari berbagai pihak khususnya tenaga kesehatan dan keluarga (Manuaba, 2001:41).
Upaya peningkatan wawasan dan pengetahuan kaum ibu mengenai hak reproduksi dan hak kesehatannya tidak dapat dilepaskan dari peran serta aktif masyarakat melalui berbagai kelompok pelayanan kesehatan di kota yogyakarta dalam sambutan tertulisnya pada Sosialisasi Satgas Gerakan Sayang Ibu (GSI) (Dinas Perhubungan,Komunikasi dan Informatika, 2010).
Sebagian perempuan menganggap bahwa masa–masa setelah melahirkan adalah masa–masa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Gangguan–gangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Gangguan perasaan selama periode masa nifas merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara. (Klinis , 2007).
Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama karena tidak optimal kemampuan ibu nifas untuk melakukan perawatan nifas khususnya melakukan mobilisasi dini (Saifudin, 2006: 2). Mobilisasi sangat penting dilakukan secara dini karena untuk mempertahankan kemandirian yaitu berujuan membantu jalannya penyembuhan ibu setelah melahirkan, pencegahan dalam komplikasi pada ibu yaitu infeksi perineum, mendeteksi secara dini ibu nifas dalam masalah perkemihan, serta mendorong ibu secara mandiri merawat bayinya dan menumbuhkan keeratan antara ibu dan bayinya. Ibu yang yang melakukan mobilisasi dini maka penyembuhannya berlangsung secara cepat, berbeda dengan ibu yang tidak melakukan mobilisasi dini akan merasa lemas karena badan tidak digerakkan.
Masyarakat yang beranggapan bahwa melakukan mobilisasi dini setelah melahirkan menyebabkan proses penyembuhan luka jahitan perineum menjadi lambat. Sehingga ibu dilarang untuk melakukan gerakan aktif. Hasil suatu penelitian terhadap 1.000 orang pasien di 16 rumah sakit di luar negeri menunjukkan bahwa imobilitas (diderita oleh 14,2% pasien) mendapat peringkat ke empat faktor resiko thrombosis (Sarwono, 2002:122). Akibat jika tidak melakukan mobilisasi dini adalah terjadinya peningkatan suhu badan karena terjadi infeksi pada perineum dan perdarahan yang abnormal karena kontraksi membentuk penyempitan pembuluh darah terbuka
Suatu rencana asuhan diformulasikan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan ibu dan keluarganya. Sedapat mungkin bidan melibatkan mereka semua dalam rencana dan mengatur prioritas serta pilihan mereka untuk setiap tindakan yang dilakukan. Hasil akhir atau tujuan yang diinginkan dicapai disusun dengan istilah yang berpusat pada pasien dan diprioritaskan dengan bekerja sama dengan ibu dan keluarga. Tujuan yang ingin dicapai adalah ibu postpartum akan mengalami pemulihan fisiologi tanpa komplikasi (Saleha,2009: 79).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh penulis pada bulan januari 2010 terhadap 5 ibu nifas hari pertama di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dari 4 ibu nifas tidak melakukan mobilisasi dini karena ibu takut jahitannya lepas dan nyeri pada perutnya. Dengan latar belakang tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan tingkat kecemasan dengan mobilisasi dini ibu nifas hari pertama di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.



Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :



Read more


HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI IBU MENYUSUI DENGAN STATUS GIZI BAYI UMUR 0 – 6 BULAN DI POSYANDU DESA SRI MARTANI PIYUNGAN BANTUL YOGYAKARTA

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak juli 1997, cukup mengakibatkan dampak negatif pada masyarakat, terutama pada masyarakat ekonomi lemah. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan sehingga masyarakat miskin semakin bertambah. Daya beli untuk membeli pangan menjadi menurun banyak keluarga yang tidak mampu lagi menyediakan makanan untuk keluarga. Defisiensi nutrisi yang berkepanjangan akan berakibat buruk pada status gizi terutama pada anak yang berumur dibawah lima tahun (Suhartono, 2000).
Profil lain yang juga menggambarkan rendahnya kualitas kesehatan di Indonesia adalah masih tingginya angka kematian bayi. Tahun 2004, angka kematian bayi adalah 37 per 1.000 kelahiran hidup. Sementara negara tetangga terdekat seperti Malaysia hanya 6 untuk setiap 1.000 kelahiran hidup dan Thailand 20 per 1.000 kelahiran hidup (Samhadi, 2006).
Kondisi kesehatan masyarakat Indonesia saat ini sedang terpuruk, hal ini ditandai dengan fenomena temuan kasus-kasus gizi buruk di beberapa daerah di Indonesia. Kondisi ini menambah situasi rumit karena belum tuntasnya masalah kesehatan lain seperti penyakit infeksi (campak, polio, diare, TBC) dan ada kecenderungan meningkatnya penyakit degeneratif di beberapa bagian masyarakat di Indonesia. Lebih jauh dijelaskan bahwa keadaan ini mungkin disebabkan rendahnya kesadaran penduduk Indonesia untuk hidup sehat, upaya kesehatan belum dikaitkan dengan pembangunan sumber daya manusia, kebijakan dan peraturan perundangan kesehatan yang tidak mendukung. Ditambah lagi dengan keadaan perekonomian negara yang tidak stabil, dimana masih banyak penduduk miskin sehingga daya beli menjadi rendah, termasuk juga akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan (Sampoerno, 2006).
Pada tahun 2000 penurunan gizi kurang cukup berarti, akan tetapi setelah tahun 2000 gizi kurang meningkat kembali. Gambaran yang terjadi pada gizi buruk yaitu dari tahun 1989 sampai tahun 1995 meningkat tajam, lalu cenderung fluktuatif sampai dengan tahun 2003 prevalensi gizi kurang pada balita sebesar 27,5%, kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun 1989 yaitu sebesar 37,5%, atau terjadi penurunan sebesar 10 % (Samhadi, 2006).
Status gizi ibu menyusui baik akan memberikan konstribusi yang baik pada bayi dalam berat badannya, namun bila status gizi ibu menyusui buruk akan berpengaruh dalam berat badan bayi. Salah satu cara untuk menilai status gizi ibu menyusui adalah dengan pengukuran lingkar lengan atas (LILA) dengan tujuan untuk mengetahui resiko KEK pada ibu menyusui, apabila ukuran lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm maka ibu menyusui tersebut mempunyai resiko kekurangan energi kronis (Supariasa et al, 2002).
Kekurangan Energi Kronis (KEK) dijumpai pada WUS usia 15-49 tahun yang ditandai dengan proporsi LILA < 23.5 cm, sebesar 24.9% pada tahun 1999 dan menurun menjadi 16,7% pada tahun 2003. Pada umumnya proporsi WUS dengan risiko KEK cukup tinggi pada usia muda (15-19 tahun), dan menurun pada kelompok umur lebih tua, kondisi ini memprihatinkan mengingat WUS dengan risiko KEK cenderung melahirkan bayi BBLR yang akhirnya akan menghambat status gizi pada anak balita (Azwar, 2006). Pada tahun 2005 ditemukan 1,8 juta balita dengan status gizi buruk, dalam jangka waktu Peningkatan jumlah anak balita yang mengalami status gizi buruk yang sangat singkat pada tahun 2006 menjadi 2,3 juta balita menderita gizi buruk, sementara masih ada 5 juta lebih anak balita lainnya yang mengalami status gizi kurang (Samhadi, 2006). Kurang gizi menyebabkan anak tidak produktif, masalah gizi bisa mempengaruhi perkembangan otak bayi. Jika bayi kekurangan gizi, bisa mengganggu pertumbuhan hidupnya. Pemenuhan gizi tersebut tergantung dari orang tuanya. Pada tahun 2005 gizi kurang terdapat 19,2%, gizi buruk 8,8%. Untuk usia 0-5 bulan gizi buruk 8,5%, usia 6-11 bulan 14,2%, usia 12-23 bulan 20% (BKKBN-Berita, 2006). Wilayah Kabupaten Sleman Provinsi Yogyakarta, dikenal sebagai daerah paling makmur bila dibanding dengan wilayah kota dan seluruh kabupaten yang ada di provinsi ini, namun diketahui masih ada 19.978 jiwa yang tergolong hidup bergizi buruk / kurang. Penduduk bergizi buruk sebanyak itu, terdiri atas ibu hamil 774 orang, ibu menyusui 1.615 orang, ibu nifas 359 orang, 889 bayi, 7.683 balita dan anak pra sekolah sebanyak 8.478 orang (Pikiran Rakyat, 2002). Sedangkan pada tahun 2007 sekitar 200 bayi diketahui mengalami kondisi gizi lebih, gizi buruk yang dialami pada bayi hampir 300 angka ini lebih tinggi dari pada gizi lebih (Anwar, 2007). Sedangkan di Piyungan Bantul merupakan daerah pedesaan yang didapat bahwa bayi yang gizi buruk sekitar 1,01%, bayi gizi baik 56,5% meningkat menjadi 60,9%, bayi gizi kurang 25,8% menurun menjadi 20%, gizi lebih 23,42% menurun menjadi 13,90% (Azwar, 2007). Sedangkan ibu menyusui yang mempunyai resiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) sebanyak 23,4% pada ibu menyusui yang memiliki bayi (Azwar 2007). Untuk itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai status gizi ibu menyusui dengan status gizi bayi umur 0-6 bulan di Posyandu Sakura Desa Sri Martani Piyungan Bantul. Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :




Read more


HUBUNGAN ANTARA POLA PEMBERIAN ASI TERHADAP KEJADIAN ANEMIA PADA BAYI 6 BULAN

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Anemia defisiensi besi pada anak adalah masalah kesehatan yang besar di dunia. Di negara-negara berkembang, 40-45% dari anak umur 0-4 tahun menderita anemia, dan di Asia Tenggara masalah tersebut mencapai 60-70% (De Pee dkk., 2002). Prevalensi anemia gizi besi di Indonesia untuk anak usia 6bulan - 5tahun sekitar 24% dari kalangan ekonomi mampu dan sekitar 38 -73% berasal dari kalangan ekonomi kurang mampu. Sebagian besar penyebab anemia di masyarakat adalah kekuranga zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin, sehingga disebut anemia kekurangan besi atau anemia gizi besi. (Hardjojoewono, 1990).
Anemia kekurangan besi selama hamil berhubungan dengan tingginya angka bayi prematur dan berat badan lahir rendah. anemia berat meningkatkan resiko kematian ibu saat melahirkan. Kekurangan besi bagi bayi mempengaruhi perkembangan psikomotor yang terlambat lebih dari 10 tahun walaupun setelah pemulihan anemia besi selama bayi (O’Brien dkk., 2003).
Masalah defisiensi besi merupakan penyebab langsung gizi kurang pada bayi dan anak. Hal ini berdampak tidak saja terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Pemenuhan kebutuhan gizi bayi 0-6 bulan mutlak diperoleh melalui air susu ibu (ASI) bagi bayi dengan ASI ekslusif. Berdasarkan hal ini maka upaya perbaikan gizi bayi 0-6 bulan dilakukan melalui perbaikan gizi sebelum dan pada masa pemberian ASI ekslusif. Selain itu Bank Dunia 2006 mengemukakan bahwa upaya perbaikan gizi bayi 0-6 bulan didasarkan bahwa gizi kurang pada usia kurang dari 2 tahun akan berdampak terhadap penurunan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kecerdasan, dan produktifitas. Dampak ini sebagian besar tidak dapat diperbaiki.
Di Indonesia hanya 14% bayi mendapatkan ASI ekslusif sampai usia 5 bulan dan hanya 8% bayi mendapat ASI ekslusif sampai usia 6 bulan (Depkes. 2004).
Anemia yang terjadi pada ibu menyusui akan berdampak terhadap kemampuan untuk memproduksi ASI yang cukup dimana cadangan atau jaringan ibu akan dipakai untuk memproduksi ASI sehingga ibu sangat beresiko terhadap terjadinya gizi kurang dan anemia yang lebih berat.
Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin di dalam kandungan, abortus, cacat bawaan, berat badan lahir rendah, abrution placenta dan cadangan zat besi yang berkurang pada bayi yang dilahirkan sudah dalam keadaan anemia (soetjiningsih, 1998). Bayi yang menderita defisiensi besi akan lebih mudah mengalami infeksi dan keterlambatan perkembangan konginitif dan psikomotor yang mungkin dapat menetap, bahkan setelah mengalami masa penyembuhan anemia. Dampak merugikan ini dilaporkan terjadi pada bayi yang mempunyai kadar hemoglobin dibawah 11 g/dl, dan kemudian berkembang menjadi anemia yang lebih berat dan kronis (Killbride dkk., 1999).
Pendapat umum menyatakan bahwa anemia pada bayi tidak ada hubungannya dengan status besi ibu selama hamil kecuali jika ibu menderita anemia sangat berat. Beberapa penelitian juga menyimpulkan tidak ada hubungan bermakna antara kedua variabel tersebut. Data prevalensi anemia dan defisiensi besi pada bayi masih sangat kurang. Hal ini disebabkan asumsi umum yang menyatakan bahwa bayi yang lahir cukup bulan dan dengan berat badan normal memiliki cadangan besi untuk 4-6 bulan pertama di kehidupannya. Banyak bukti yang terkumpul (dari banyak penelitian) menunjukan bahwa bayi yang dilahirkan dengan berat badan normal dari ibu yang anemia ternyata mempunyai cadangan besi rendah dan cenderung menderita anemia (De Pee dkk., 2002)
Berbagai cara telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi masalah defisiensi besi seperti penyuluhan gizi, pemberian bantuan pangan, suplemen gizi, diversifikasi pangan, dan Fortifikasi pangan. Fortifikasi merupakan intervensi gizi dengan rasio manfaat-biaya (benefit cost ratio) tertinggi dibanding intervensi gizi lain. Zat gizi yang digunakan dalam fortifikasi makanan bertujuan memperbaiki status gizi ibu menyusui agar menghasilkan ASI optimal untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi.
Berdasarkan survei kesehatan Rumah Tangga tahun 2001, prevalensi anemia pada balita 0-5 tahun sekitar 47%, anak usia sekolah sekitar 26,5% dan wanita usia subur (WUS) bekisar 40%. Sementara survei di DKI Jakarta tahun 2004 menunjukan angka prevalensi anemia pada balita sekitar 26,5% dan pada ibu hamil 43,5%. Melihat beberapa hasil survei ini, anemia gizi masih merupakan masalah gizi utama pada anak-anak, ibu hamil, dan wanita pada umumnya. (http : //www.info-sehat.com/content.Php.sid. Diakses Tanggal 18 februari 2008).
Sutaryo mengungkapkan bahwa saat ini telah terjadi kekurangan zat besi pada anak-anak dalam kondisi cukup memprihatinkan Di Indonesia kasus anemia defisiensi besi saat ini diketahui telah terjadi pada anak-anak atau bayi mulai umur 3-5 bulan. Di DIY sendiri sekitar 75% anak berusia 6 bulan telah mengalami anemia defisiensi besi.
Setelah melakukan studi pendahuluan di Puskesmas Depok I sleman Yogyakarta bayi yang mendapatkan ASI eksklusif terdapat 0,05% dari 8685 bayi pada tahun 2007. Angka kejadian sakit pada tahun 2007 terdapat sekitar 50.05% dari jumlah bayi yang ada.
Berdasarkan masih tingginya prevalensi anemia pada bayi usia 6 bulan dan ibu menyusui serta pentingnya ASI bagi tumbuh kembang bayi 0-6 bulan maupun peranan besi dalam pertumbuhan bayi maka dilakukan studi “Hubungan antara Pola Pemberian ASI terhadap kejadian anemia pada bayi 6 bulan yang akan dilaksanakan di Posyandu yang berada di wilayah kecamatan depok yogyakarta


Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :




Read more


HUBUNGAN ANTARA POLA PEMBERIAN ASI DENGAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN BALITA USIA 6-23 BULAN DI POSYANDU RW IV KELURAHAN COKRODININGRATAN JETIS KOTA YOGYAKARTA

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik untuk bayi pada awal kehidupannya karena ASI mengandung seluruh zat-gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan serta mengandung zat-zat imunologis yang dapat melindungi bayi dari infeksi. Hasil penelitian para ilmuwan menunjukkan bahwa pemberian ASI saja dapat menurunkan angka kematian bayi, terutama kematian karena diare dan infeksi saluran pernapasan akut (WHO, 2001).
Pentingnya ASI bagi kehidupan bayi sudah menjadi perhatian tingkat dunia, sehingga Badan Dunia UNICEF merekomendasikan penggunaan ASI sebagai salah satu butir rencana strategis untuk menurunkan angka kematian bayi yang juga merupakan salah satu sasaran dari Milenium Development Goals (Gillespie, 2003).
Zat kekebalan yang terkandung dalam ASI akan melindungi bayi dari penyakit mencret (diare). Bayi ASI eksklusif lebih sehat dibanding bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. Anak sehat tentu lebih baik pertumbuhann dan perkembangannya dibanding anak yang sering sakit (Gillespie, 2003).
Pemerintah Indonesia juga berupaya untuk meningkatkan minat dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya ASI untuk bayi. Hal itu tercermin dengan diterbitkannya oleh Direktorat Bina Gizi Departemen Kesehatan 13 pesan pedoman umum gizi seimbang (PUGS) dengan salah satu butirnya adalah memberikan hanya air susu ibu (ASI) sampai bayi berusia 6 (enam) bulan (Soekiman, 2000).
WHO dan UNICEF saat ini merekomendasikan pemberian ASI harus terus dilakukan hingga 2 tahun dan dimungkinkan lebih lama lagi. Bukti kelanjutan pemberian ASI dalam tahun kedua paling kuat dalam keadaan-keadaan dimana higienitas buruk dan tingkat infeksi tinggi. Dalam kondis-kondisi seperti ini, pemberian ASI yang diperpanjang (hingga 2 sampai 3 tahun) telah terbukti mampu melindungi dari penyakit-penyakit infeksi dan mempunyai hubungan positif dengan ketahanan hidup anak (Sarwono, 2002).
Di negara-negara industri, manfaat dari diperpanjangnya pemberian ASI masih kurang terbukti. Sebagai akibatnya, Akademi Pediatri Amerika merekomendasikan pemberian ASI setidaknya 12 bulan dan melanjutkan selama ibu dan sang bayi menginginkan, sedang negara-negara Eropa seperti Denmark dan Inggris cenderung untuk tidak memberikan rekomendasi tentang durasi pemberian ASI setelah 6 bulan pertama. Karena itu untuk WHO wilayah Eropa merekomendasikan bahwa pemberian ASI lebih baik perlu dilanjutkan setelah tahun pertama, dan pada populasi masyarakat dengan tingkat infeksi tinggi meneruskan pemberian ASI selama tahun kedua dan sesudahnya akan menguntungkan bagi bayi (Sarwono, 2002).
Rekomendasi WHO/UNICEF pada pertemuan tahun 1979 di Geneva tentang makanan bayi dan anak antara lain berisi “Menyusukan merupakan bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan makanan bayi secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologik dan psikologik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Memberikan susu formula sebagai tambahan dengan dalih apa pun pada bayi baru lahir harus dihindarkan” (Sarwono, 2002).
Di Indonesia ibu yang tidak memberi ASI sebanyak 3-4%., sementara 85% ibu memberi ASI sampai bayi berusia 6 bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan mutu dan jumlah ASI berkurang sehingga bayi perlu mendapat makanan. Kurang lebih 40% bayi kurang dari 2 bulan diberi makanan pendamping ASI seperti air matang, susu botol (9%), dan makanan padat (20%). Sementara itu 71% bayi berumur 4-5 bulan sudah diberi makanan padat dan 87% bayi berumur 6-7 bulan sudah diberi makanan padat (BPS, NFPCB, MOH, and MI, 1995).
Pengenalan makanan-makanan tambahan bukan berarti penghentian pemberian ASI. Sebaliknya untuk tahun pertama ASI harus diberikan sebagai sumber makanan utama, dan harus diberikan antara sepertiga dan setengah dari total masukan energi rata-rata sampai akhir tahun pertama. Maksud dari pemberian makanan tambahan adalah untuk menyediakan energi dan nutrisi tambahan, dan idealnya makanan-makanan tambahan ini tidak menggantikan ASI selama 12 bulan pertama. Untuk menjamin volume ASI tetap terjaga, dan untuk menstimulasi produksi susu, para ibu harus terus menyusui bayi-bayi mereka dengan sering selama periode pemberian makanan tambahan (Pediatrics, 2004).
Salah satu suksesnya pemberian ASI adalah memberikan ASI setengah jam pertama setelah lahir. Hasil penelitian menunjukkan hanya 8,3% bayi mendapat ASI setengah jam pertama setelah lahir. WHO menganjurkan pemberian ASI sampai dengan usia 6 bulan, ternyata semakin besar usia bayi semakin rendah presentase pemberian ASI. Rekomendasi dari “Innocenti Declaration” adalah pemberian ASI sampai dengan usia 24 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lamanya bayi mendapat ASI adalah umur 23.9 bulan (Depkes, 2003).
Proporsi anak umur 12-15 bulan yang masih mendapat ASI, menurut SDKI dan Susenas adalah tahun 1997 untuk laki-laki (80,4%), perempuan (80,4%), diperkotaan (80,3%), sedangkan didesa (82,6%). Tahun 1999 untuk laki-laki (81,0%), perempuan (80,9%), diperkotaan (81,2%), dan didesa (84,3%). Menurut SDKI tahun 1991 (87,4%), tahun 1994 (88,2%), dan tahun 1997 (86,0%) (Depkes, 2003).
Proporsi bayi umur 6-9 bulan yang mendapat MP-ASI menurut SDKI dan Susenas yaitu tahun 1997 untuk laki-laki (88,4%), perempuan (88,7%), diperkotaan (88,1%), dan didesa (88,7%), sedangkan pada tahun 1999 untuk laki-laki (90,2%), perempuan (91,3%), diperkotaan (88,8%), dan didesa (90,5%). Sedangkan menurut data Susenas tahun 1991 (81,2%), tahun 1994 (85,3%), dan tahun 1997 (80,9%) (Depkes, 2003).
Menyebutkan bahwa keluhan ASI kurang tidak saja datang dari ibu-ibu yang berstatus gizi kurang, namun juga dari ibu-ibu yang ststus gizinya baik. Hal ini dapat saja terjadi, karena ibu-ibu yang berstatus gizi baik kebanyakan adalah wanita karier dimana frekuensi pemberian ASI berkurang, sehingga produksi ASI juga berkurang (Irawan, 1999).
Tentang hubungan status gizi ibu menyusui terhadap pertumbuhan bayi atau status gizi bayi, Jelliffe dan Jelliffe (2000) menyatakan, bahwa kejadian dini marasmus pada bayi dalam 6 (enam) bulan pertama kehidupan lebih banyak dialami oleh bayi dari ibu-ibu yang status gizinya jelek (Jelliffe dan Jelliffe, 2000).
Konsumsi gizi dan kapasitas kerja ibu mempengaruhi status gizi ibu selama menyusui, selanjutnya akan mempengaruhi kemampuan ibu menyusui bayinya (Dewey, dkk, 2001). Kebutuhan energi ibu yang menyusui bayi kurang dari 6 (enam) bulan berkisar antara 2800-2900 kcal/hari. Hasil penelitian Hadja dan Astuti (2002) di Sulawesi Selatan, menggambarkan konsumsi energi ibu-ibu balita hanya 1126 kcal atau hanya 38,8% dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Hasil penelitian ini diperkuat oleh temuan Kusin dan Kardjati (1999) di Madura dimana growth-faltering terjadi pada bayi kurang dari 6 (enam) bulan sebagai akibat asupan zat gizi yang buruk dari ASI, karena sebagian besar ibu-ibu di Madura memulai laktasi dengan tidak cukup simpanan lemak selama kehamilan (Irawati dkk, 2002).
Di wilayah Posyandu RW IV Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta yang merupakan daerah yang mendekati perkotaan namun data tentang Balita yang diberi ASI sampai 2 tahun masih sedikit yaitu sekitar 24% balita dari jumlah seluruhnya 50 balita. Untuk itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan Antara Pola Pemberian ASI Dengan Pertambahan Berat Badan Balita Usia 6-23 bulan di Posyandu RW IV Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta.


Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :




Read more

TATA CARA PEMESANAN SKRIPSI - TESIS LENGKAP

  1. DAFTARKAN FORMULIR VERIFIKASI PESANAN
  2. Selanjutnya Kirim SMS ke 0856 2926 356 . Format Isi pesan : "Judul _ spasi _Sumber: [Sendrooms] atau [paNRoom]"
  3. BIAYA DONASI PEMBAYARAN
  4. Setelah biaya pemesanan dibayar, anda harus melakukan konfirmasi melalui SMS ke 0856 2926 356 bahwa anda telah melakukan transfer ke Bank BNI No.Rek.0184 734 644 , atas Nama Herry dan Sertakan Alamat Email Anda (PEMESAN) sebagai tujuan pengiriman file skripsi yang akan kami tuju.
  5. File skripsi akan segera dikirimkan ke alamat email anda, setelah proses pembayaran dan konfirmasi SMS telah kami terima.
  6. DAFTAR FORMULIR /Sign up Now / REGISTER NOW untuk pendaftaran secara GRATISS .....
Job at home

Job at home

Whether you are looking for a succeed work at home or whether you dream about getting income online; yes, in the end, you located it!

Have economic independence

No computer skills needed. You can be completely new to manage our system - you don't need ANY experience. This is actually easy.

You may stay at room and work at your free time. Even if you don't have pc you may do this work in Online cafe or on Internet cell phone.

How it works?

We design a online-shop for you with ready to operate e-commerce solution. Your work is very simple; you have to submit material about your web-store to the Internet directories. We will provide you with very simple step-by-step instruction how to do this. The typical instruction requests you to open a web site and fill in a form with data regarding your internet-store and software.

You will be paid from US $20.00 to US 180.00 for any purchase which is comes via your web-shop.

There is no restriction for your revenue. No matter where you live your commissions are 100% guaranteed.

Sign up Now...

Register now to get economic freedom. All you need is the simple: register now and havepersonal internet company!

Loading...
 Loading ...
powered by
Socialbar