HUBUNGAN ANTAR PENGETAHUAN GIZI REMAJA PUTRI DAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI DI SLTP NEGRI II SEWON BANTUL,YOGYAKARTA

PENDAHULUAN

Latar belakang
Undang-undang kesehatan nomor 23 tahun 1992 yang memuat tujuan pembangunan kesehatan Bangsa Indonesia merupakan upaya unuk meningkatkan kesehatan secara produktif melalui paradikma sehat dengan harapan dalam jangka waktu panjang dapat mendorong masyarakat untuk bersifat mandiri menjaga kesehatanya (Depkes RI, 2003).
Pada saat ini masalah Gizi masih merupakan beban berat bagi bangsa hakekatnya berpangkal dari keadaan ekonomi dan pengetahuan masyarakat tentang nilai gizi makanan, sehingga berpengaruh pada daya beli dan prilaku masyarakat yang dapat menurunkan status gizi (Irianto, 2007) menurunkan status gizi dilihat dari timbulnya berbagai kasus gizi buruk dan busung lapar sehingga harus ditanggulangi secara benar, tepat serta cepat melalui tindakan kuratif, dan rehabilitatif agar tidak terjadi korban jiwa.
Usia remaja merupakan usia peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa. Pada remaja putri, perubahan itu ditandai mulainya menstruasi. Dari tinjaun sudut ilmu masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan manusia, pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan, perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya, ketidak seimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi baik itu gizi lebih ataupun gizi kurang. (Permaisih, 2003).
Status gizi baik diusia remaja sangat diperlukan terutama remaja putri agar dimasa kehamilannya nanti sehat dan pertambahan berat badannya adekuat, tetapi hal itu seringkali diabaikan guna menjaga penampilannya dan bentuk tubuh pengetahuan tentang bagaimana cara menghitung kebutuhan energi dan protein sangat diperlukan agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan asupan. Kebutuhan energi dan protein bagi remaja putri usia 12-18 tahun berkisar antara 2200-2500 kkal dan protein sekitar 44.55-47.8 gram (Arisman, 2004).
Nutrisi pada remaja tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan makan. Kebiasaan makan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh perhatian akan penampilan tubuhnya. Usaha remaja putri menjadi langsing dilakukan melalui makan makanan yang tidak cukup bergizi. Makanan dipilih umumnya tidak banyak mengandung energi. Selain itu umumnya remaja putri malas makan, terutama makan pagi, dengan alasan agar badan tetap langsing. Kebiasan makan yang kurang benar dapat mempengaruhi masukan makanan dan akhirnya status gizi juga ikut terpengaruh. (Muniroh, 2002)
Adanya perubahan-perubahan yang menyebabkan kebutuhan zat gizi pada kelompok usia remaja bertambah, kebutuhan gizi remaja merupakan kebutuhan gizi tinggi dalam kehidupan seseorang. Kebutuhan gizi yang tinggi merupakan efek kombinasi dari pertumbuhan yang cepat dan tingkat aktifitas remaja yang umumnya tinggi. Oleh karena itu kebutuhan-kebutuhan zat gizi pada usia remaja perlu diperhatikan agar tidak terjadi penyakit akibat kekurangan gizi (Muniroh, 2002).
Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat, misalnya penurunan konsentrasi belajar, resiko melahirkan bayi dengan BBLR, penurunan kesegaran jasmani, banyak penelitian telah dilakukan menunjukkan kelompok remaja menderita/mengalami banyak masalah gizi tersebut antara lain anemia dan indeks massa tubuh (IMT) kurang dari batas normal atau kurus. Prevalensi anemia berkisar antara 40%-80% sedangkan prevalensi remaja dengan IMT kurus berkisar antara 30%-40%.(Permaisih, 2003).
Berdasarkan penelitaian di Jombang Jawa Barat data susenas 1999, prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada remaja di Indonesia umumnya dipedesaan Prevalensi gizi buruknya sebesar 12,86% dan gizi kurang sebesar 31,22% (Muniroh, 2002). Dalam studi yang dilakukan pada tahun 2003 yang melibatkan 4.747 siswa /siswi SLTP kota Yogyakartadan 4.602 siswa/siswi SLTP Kabupaten Bantul ditemukan bahwa 7,8% remaja dikota Yogyakarta dan 2% remaja kabupaten bantul mengalami obesitas.
Sekolah lanjutan tingkat pertama negri II Sewon Bantul merupakan sekolah lanjutan, menurut survey yang dilakukan peneliti pada bulan Januari 2008 dan dilakukan studi pendahuluan pada 15 siswi di SLTP N 2 Sewon Bantul di dapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan tentang gizi ramaja masi kurang. Karena dari 15 siswi hanya 3 siswi yang bisa menjawab pertanyaan peneliti dan dari hasil pengukuran Antopometri dari 15 siswi didapat 3% dari 15 siswi mengalami gizi kurang.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti ingin melakukan penelitian mengenai. ”Hubungan antara pengetahuan tentang gizi remaja putri dan status gizi remaja putri di SLTP Negri 2 Sewon Bantul, Yogyakarta”.?


Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :




Read more


HUBUNGAN ANEMIA GRAVIDARUM DENGAN KEJADIAN ABORTUS

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Visi pembangunan Indonesia adalah Indonesia sehat 2010 dimana pada 2010 diharapkan bangsa Indonesia hidup dalam lingkungan yang sehat, berprilaku hidup bersih dan sehat serta mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata sehingga memiliki derajad kesehatan yang tinggi.
Tingginya angka kematian ibu dan bayi menunjukkan rendahnya kualitas pelayanan kesehatan dalam rangka menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan balita di Indonesia perlu adanya pendekatan dan memperluas jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan adamya penempatan bidan, terutama di daerah-daerah yang jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan dalam bentuk pelayanan yang bersifat promotif, preventif dengan tidak mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif sesuai dengan kewenangan dan harus mampu menggerakkan peran serta masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sesuai dengan kebijakan Safe Mother Hood (SMH) dan prinsip Primary Health Care (PHC).
Dalam rangka mewujudkan Indonesia sehat 2010 seperti yang tercantum dalam rencana pembangunan jangka panjang menengah 2004-2009 sasaran yang ingin dicapai oleh pembangunan kesehatan adalah meningkatkan umur harapan hidup, menurunkan angka kemtian ibu dan bayi dan menurunkan prevalensi gizi kurang pada anak balita. Untuk mencapai hal tersebut, Departemen Kesehatan menetapakan visi masyarakat sehat yang dicapai dengan menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan meningkatkan system surveilans, monitoring, informasi kesehatan dan meningkatkan pembiayaan. Berkaiatan dengan strategi di atas sasaran yang ingin dicapai adalah pada akhir tahun 2008 seluruh desa telah menjadi desa siaga. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Adapun tujuan dari penyelenggaraaan desa siaga adalah meningkatkan pengetahuan kesadaran masyarakat desa akan pentingnya kesehatan meningkatkan kewaspadaaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap resiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat, meningkatnya kesehatan lingkungan di desa serta meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa menolong diriny sendiri di bidang kesehatan. Kriteria sebuah desa menjadi desa siaga adalah apabiala desa tersebut memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yang diselenggarakan olah bidan.
Kesehatan masyarakat merupakan salah satu pilar pembangunan nasional Indonesia untuk itu STIKES RESPATI sebagai salah satu institusi pendidikan tenaga kesehatan sangatlah perlu untuk mendalami mengenai factor-faktor yang menyebabkan kejadian kesakitan di masyarakat. Kesehatan masyarakat dipengaruhi berbagai factor untuk itulah perlu dilakukan pengkajian secara komperehensif dalam kehidupan masyarakat sehingga dapat diketahui penyebab terjadinya kesakitan dan factor yang mempengaruhinya. Tenaga kebidanan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang menjadi ujung tombak institusi kesehatan pemerintah dalam masyarakat untuk mendukung program kesehatan yang diselenggarakan pemerintah Indonesia dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Dalam rangka peningkatan kompetensi dan kemampuan analisa penyebab kejadian kesakitan dan upaya peningkatan kesehatan masyarakat oleh dosen dan mahasiswa, maka perlu diadakan kegiatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa ( PKMD) bagi mahasiswa Program Studi D III Kebidanan. Sebagai calon ahli madya kebidanan harus memiliki kompetensi yang cukup sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya melalui praktek lapangan komunitas untuk mendukung program pemerintah. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengkajian sekaligus pembinaan terhadap masyarakat secara individu sehingga diperoleh permasalahan-permasalahan kesehatan dalam masyarakat dan upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan tersebut.


Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :




Read more


HUBUNGAN HIGIENIS PERORANGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI RUMAH SAKIT PENYANGGA PERBATASAN BETUN KABUPATEN BELU - NTT

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Tujuan pembangunan Kesehatan sesuai dengan sistem Kesehatan Nasional adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan yang optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum (Depkes RI, 1999). Menurut Undang – Undang Kesehatan No 23 tahun 1992 pasal 10, untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, maka diselenggarakan pelayanan kesehatan dengan pendekatan, pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (Depkes RI,2000).
Semakin berkembangnya IPTEK yang diikuti dengan banyaknya penyakit berbasis lingkungan yang sedang terjadi di Indonesia yang disebabkan karena kurangnnya pemahaman dan perilaku manusia terhadap kebersihan belum baik. Selain itu kurangnnya pegawasan terhadap makanan yang dimakan anak saat diluar rumah dan pengetahuan orang tua terhadap bahaya penyakit berbasis lingkungan masih rendah. Hal ini menyebabkan anak sakit, orang tua kurang memahami penyakit dan tatalaksana terhadap penyakit tersebut (Widjaja,2001).
Pada umumnya masalah penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan terbesar di Indonesia baik dikarenakan masih buruknya kondisi sanitasi dasar, lingkungan fisik maupun rendahnnya perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Dalam hal sanitasi, mareka masih memanfaatkan ’’ Toilet Terbuka’’ yang biasanya terletak di kebun, pinggir sungai, atau empang. Perilaku semacam itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, anatara lain faktor ekonomi karena untuk membuat septic Tank diperlukan biaya. Tidak tersediannya septic tank umum dan layanan yang baik unutk penyedotannya. Buang air besar ditempat terbuka (suangai atau empang) telah menjadi kepraktisan dan dilakukan banyak orang disekitarnya (Widjaja, 2001)
Kebersihan lingkungan merupakan suatu yang berpengaruh terhadap kesehatan pada umumnya. Banyaknya penyakit – penyakit lingkungan yang menyerang masyarakat karena kurang bersihnya lingkungan disekitar ataupun kebiasaan buruk yang mencemari lingkungan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan penyakit yang dibawa oleh kotoran yang ada di lingkungan bebas tersebut baik secara langsung ataupun tidak langsung yaitu melalui perantara. Penyakit diare merupakan suatu penyakit yang telah dikenal sejak zaman Hippocrates. Sampai saat ini, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama masyarakat Indonesia. Dari urutan penyebab kunjungan Puskesmas / balai pengobatan, diare hamper selalu termasuk dalam kelompok 3 (tiga) penyebab utama masyarakat berkunjung ke Puskesmas (Judarwanto,2005)
Kecenderungan mengkonsumsi makanan yang keamanannya belum terjamin mengakibatkan sering muncul kasus – kasus keracunan atau timbulnya penyakit. Berdasarkan analisis, 60% kejadian keracunan makanan berasal dari jasa boga atau makanan. Tercatat ada sekitar 54 kasus keracunan makanan sepanjang bulan Januari – Agustus 2004. Dari kasus – kasus tersebut 3.034 orang diantarnya sakit dan 14 orang meninggal dunia. Dua kasus keracunan ini bersumber dari makanan jajanan dan sembilan kasus diantaranya terjadi di sekolah. Makanan yang terpapar racun ini adalah susu yang sudah kadaluarsa, es dan minuman yang menggunakan pewarna tekstil dan pemanis buatan, Bakso yang mengandung formalin dan Boraks (Sampurno, 2004).
Selain itu diare juga dapat terjadi karena gaya hidup yang tidak sehat. Misalnya tidak mencuci tangan saat makan, makan makanan dengan tidak memperhatikan kebersihannya juga kuman yang terbawa lewat kuku yang tidak dipotong (Sampurno, 2004)
Fakta ini seolah mengatakan bahwa kesadaran penduduk Indonesia akan kesehatan teramat minim. Dan bukan tidak mungkin bahwa kesadaran yang minim tersebut disebabkan oleh tingkat pengetahuan yang kurang tentang diare, serta pencegahannya. Diare yang disertai gejala buang besar terus menerus muntah dan kejang perut kerap dianggap biasa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu pertolongan medis (Judarwanto, 2005).
Tentang penatalaksanaan dan pencegahan diare, peran orang tua yang paling penting. Tingkat pengetahuan orang tua tentang diare sangat berpengaruh terhadap penatalaksaan dan pencegahan terhadap diare itu sendiri. Pengetahuan orang tua dengan kejadian diare dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti media masa, penyuluhan yang dilakukan tim kesehatan lingkungan maupun sumber lainnya. Selama ini persepsi yang sering muncul dimasyarakat tentang diare adalah karena proses pembuangan zat – zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh dan tidan memerlukan penanganan karena akan sembuh dengan sendirinya. Atau mungkin juga muncul juga persepsi jika tidak kunjung sembuh dari diare , maka orientasi seseorang menginginkan segera dapat baung air besar secara normal tanpa memperhitungkan akibat buruk dari obat diare yang tidak sesuai penggunaannya (Widjaja, 2001)
Jhon (2005) mengemukakan hasil penelitian dari Badan Pegawas Obat dan Makanan yang menyebutkan bahwa dari 120 sampel makanan yang diuji ada tujuh Kbupaten, sebanyak 80 sampel atau 50%nya tidak memenuhi mutu keamanan. Badan POM NTT menemukan nlebih dari 70% makanan menggunakan pemanis buatan.
Kecenderungan mengkonsumsi makanan diluar rumah atau jajanan yang keamanannya belum terjamin merupakan fakor utama penyebab utama keracunan atau diare (Sampurno, 2004)
Ada bermacam – macam penyebab diare misalnya infeksi, kurangnya kebersihan makanan, kurangnya higienis perorangan. Higienis perorangan meliputi banyak hal diantaranya kebiasaan makan lalapan, kebiasaan mencuci tangan dan kebiasaan mandi. Berdasarkan uraian diatas maka penulis bernaksud untuk mengetahui hubungan antara higienis perorangan dengan kejadian diare.


Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :




Read more


GAMBARAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN KB PIL PADA AKSEPTOR KB PIL DI PUSKESMAS PLERET YOGYAKARTA

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Program keluarga berencana merupakan salah satu usaha penanggulangan masalah kependudukan. Keluarga Berencana dirumuskan sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui batas usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera (BKKBN, 2008).
Meskipun Indonesia telah melaksanakan program Keluarga Berencana (KB) sejak tahun 1970-an, sampai saat ini belum tercapai angka ideal kelahiran. Angka kelahiran saat ini mencapai 2,6% anak per wanita, belum mencapai angka ideal, yaitu 2,1% anak per wanita. Masyarakat yang berpendidikan rendah dan miskin cenderung memiliki tingkat kelahiran lebih tinggi. Sehingga, perhatian kepada masyarakat miskin masih tetap diperlukan. Untuk mencapai angka kelahiran ideal, jumlah akseptor keluarga berencana (KB) perlu ditingkatkan satu persen setiap tahun agar terjadi keseimbangan jumlah penduduk (Sianturi, 2005).
Pelaksanaan program KB, pemerintah telah memasyarakatkan metode alat kontrasepsi.  Sesungguhnya sampai saat ini belum ada satu pun metode yang betul-betul ideal dan sesuai bagi setiap individu. Akseptor KB dengan metode apapun menghendaki agar cara kontrasepsi yang digunakan dapat berfungsi secara optimal dan tidak mengganggu aktifitas sehari-hari, serta efek samping yang sangat rendah. Berdasarkan hasil studi di Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur (2001), efek samping kontrasepsi terbanyak yang diketahui adalah pil (28,8%), suntikan (24,9%), IUD (15,3%), kondom (6,1%), dan vasektomi (4,3%), sedangkan efek samping yang banyak dikeluhkan adalah mual, timbulnya jerawat, dan penambahan berat badan (BKKBN, 2003 Cit. Andayani, 2008).
Pemilihan alat kontrasepsi pada umumnya merupakan satu keputusan yang dilandaskan berbagai pertimbangan dari akseptor serta berkaitan dengan pilihan pribadi. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit. Tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia, tetapi juga karena metode-metode tersebut mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan individual, dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi. Pemilihan suatu metode ber-KB pada wanita harus menimbang berbagai faktor, termasuk status kesehatan mereka, efek samping potensial suatu metode, konsekuensi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, besarnya keluarga yang diinginkan, kerjasama pasangan, dan norma budaya mengenai kemampuan mempunyai anak. Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun demikian, meskipun telah mempertimbangkan untung rugi semua kontrasepsi yang tersedia, tetap saja terdapat kesulitan untuk mengontrol fertilitas secara aman, efektif, dengan metode yang dapat diterima, baik secara perseorangan maupun budaya pada berbagai tingkat reproduksi. Tidaklah mengejutkan apabila banyak wanita merasa bahwa penggunaan kontrasepsi terkadang problematis dan mungkin terpaksa memilih metode yang tidak cocok dengan konsekuensi yang merugikan atau tidak menggunakan metode KB sama sekali (Anonim, 2008).
Kontrasepsi hormonal merupakan salah satu metode kontrasepsi yang paling efektif dan reversibel untuk mencegah terjadinya konsepsi. Kebanyakan kontrasepsi hormonal diberikan secara oral. Sediaan yang mengandung progesteron saja dapat berupa pil, depo dalam bentuk injeksi. Kontrasepsi oral adalah jenis kontrasepsi yang paling banyak digunakan karena memang bentuk inilah yang paling efektif untuk mencegah kehamilan (Baziad, 2002).
KB pil merupakan metode yang paling populer. Menurut data PKBI, pil KB menduduki peringkat pertama dengan nilai rata-rata 38,74%. Sedangkan data nasional di Indonesia sampai bulan Februari 2003, pil KB menduduki tempat kedua sebanyak 34,57% dari 652.562 peserta KB. Akan tetapi banyak mitos berkembang seputar pil KB. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), masih diliputi mitos seperti pil KB menyebabkan kegemukan, atau membuat kandungan kering. Survei Women's Health di AS menyatakan 61 % responden percaya bahwa pil KB menaikkan berat badan. Faktanya, tidak semua pil KB menyebabkan peningkatan berat badan (Christina, 2003)
Keputusan metode dan pemilihan alat kontrasepsi yang akan digunakan pada setiap klien bergantung pada sejumlah faktor. Faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut berupa kepentingan pribadi, pertimbangan kesehatan, biaya, dan lingkungan budaya. Faktor-faktor spesifik ini serta tingkat kepentingan relatifnya berbeda dari satu pasangan ke pasangan lain. Pada banyak kasus, faktor-faktor ini dapat dipengaruhi, baik secara positif maupun negatif, oleh aktifitas program. Selain itu, faktor-faktor yang menentukan pemilihan dapat berubah seiring dengan bertambahnya usia reproduksi klien sehingga diperlukan reevaluasi terhadap metode apa yang paling baik untuk memenuhi individual kebutuhan klien (Wulansari, 2006).
Pemakaian Pil KB di Indonesia menempati urutan kedua setelah suntik, dimana penggunaan tertinggi ada di propinsi Sulawesi Utara sekitar 50,3%, disusul propinsi Aceh sekitar 47,4%, dan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri sekitar 12% (BKKBN, 2000 Cit. Baequny, 2001). Data peserta KB di wilayah kerja Puskesmas Pleret pada tahun 2008 adalah KB suntik sekitar 37,6%, pil sekitar 37,2%, kondom 11,1%, implant 9,2%, dan IUD sekitar 4,9%. Sedangkan pada bulan januari tahun 2009, KB pil menduduki peringkat pertama yaitu sekitar 50%, diikuti KB suntik sekitar 31,3%, kondom 14,7%, IUD 2% dan implant sekitar 2%. Hal tersebut menunjukkan adanya perbedaan pola pemilihan alat kontrasepsi pada tahun 2008 dan 2009 di wilayah kerja Puskesmas Pleret. Di samping itu, masih ada ibu yang berumur lebih dari 45 tahun yang menggunakan KB pil. Padahal penggunaan KB pil pada umur lebih dari 45 tahun tidak disarankan karena dapat mempengaruhi siklus mentstruasi pada pengguna.
Melihat data di atas terlihat bahwa penggunaan pil KB di wilayah kerja Puskesmas Pleret Yogyakarta pada tahun 2009 sangat tinggi dibanding alat kontrasepsi lainnya. Sehingga penulis menganggap perlunya penelitian mengenai gambaran faktor yang mempengaruhi pemilihan KB pil pada akseptor KB pil di wilayah kerja Puskesmas Pleret Yogyakarta. 


Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :
DOWNLOAD dengan Freakshare
  • Download BAB I
  • Download BAB II
  • Download BAB III
  • Download BAB IV
  • Download BAB V
  • Download Daftar Pustaka




    Read more


    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU HAMIL TRIMESTER III DALAM MERENCANAKAN TEMPAT PERSALINAN DI PUSKESMAS DEPOK I SLEMAN YOGYAKARTA

    PENDAHULUAN
    Latar Belakang
    Persalinan merupakan proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya, tetapi persalinan pada manusia setiap saat terancam penyulit yang dapat membahayakan ibu maupun janinnya, sehingga memerlukan pengawasan, pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas yang memadai (Manuaba, 1999).
    Tingginya Angka Kematian lbu (AKI) merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian yang besar dalam upaya mencapai target pembangunan kesehatan 2010, di Indonesia angka kematian ibu melahirkan pada tahun 2007 mencapai 226 per 100 ribu kelahiran, 36 kasus ibu meninggal saat hamil atau melahirkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (Prasetyo, 2009), 11 kasus di Kabupaten Sleman, dan di wilayah Depok I Sleman tidak ditemukan angka kematian ibu pada tahun 2007 (Dinkes, 2007).
    Penyebab utama kematian ibu terdiri atas beberapa faktor yaitu trias klasik seperti perdarahan, infeksi, dan keracunan kehamilan, serta faktor-faktor lainnya seperti pelayanan kesehatan ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, kondisi sosio ekonomi serta ketrampilan petugas kesehatan. Dengan kata lain, penyebab kematian ibu ada tiga faktor keterlambatan, yaitu keterlambatan dalam keputusan mencari pelayanan kesehatan, keterlambatan dalam mencapai tempat pelayanan kesehatan, dan keterlambatan menerima pelayanan kesehatan (Martini,1999), sehingga dengan adanya banyak faktor yang mempengaruhi kematian ibu terutama saat melahikan, maka menentukan tempat persalinan merupakan suatu hal yang penting untuk mencegah terjadinya tiga faktor keterlambatan di atas. Tempat persalinan yang direncanakan haruslah mempunyai berbagai kemudahan dan peralatan serta sumber daya manusia terlatih agar dapat mengatasi berbagai masalah. Setiap pasangan suami istri harus membuat keputusan sejak awal dalam menentukan tempat persalinan. Bagi ibu hamil yang memilki resiko tinggi kehamilan seperti kehamilan ganda, perencanaan persalinan sangatlah penting menyangkut masalah peralatan dan tenaga medis yang ahli. Pada ibu hamil dengan kehamilan ganda membutuhkan penanganan yang intensif dalam persalinannya, semua persiapan untuk resusitasi dan perawatan bayi premature disediakan. Golongan darah ibu sudah ditentukan dan persediaan darah diadakan mengingat kemungkinan perdarahan post partum lebih besar ( Prawirohardjo, 2007).
    Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak fasilitas-fasilitas kesehatan yang menerima jasa pelayanan persalinan baik dari pelayanan kesehatan yang berteknologi modern dan tenaga medis yang ahli maupun pelayanan kesehatan dengan fasilitas dasar dan tenaga medis yang terbatas, sehingga dengan adanya banyak fasilitas-fasilitas pelayanan persalinan, maka para ibu hamil memiliki banyak pilihan dalam merencanakan tempat persalinannya yang sesuai dengan keinginan ibu. Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, di Kabupaten Sleman pada tahun 2007 terdapat 13.252 jiwa ibu hamil dan 645 diantaranya memiliki resiko tinggi pada kehamilan, dengan jumlah persalinan 12.647 persalinan yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan, dari 12.647 ibu yang bersalin, terdapat 11.729 ibu bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan tabel cakupan ibu hamil kabupaten Sleman, persalinan ditolong tenaga kesehatan dan ibu nifas Kabupaten Sleman, persalinan disetiap kecamatan memiliki jumlah persalinan yang berbeda.
    Berdasarkan hasil Studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, di Puskesmas Depok I Kabupaten Sleman, Yogyakarta, terdapat 45 ibu hamil trimester III yang melakukan Antenatal Care (ANC) di puskesmas ini. Puskesmas Depok I tidak melayani pertolongan persalinan, sehingga dari 45 orang ibu hamil trimester III memiliki kesempatan untuk memilih tempat persalinan yang diinginkan.
    Dari uraian di atas, dengan adanya tiga faktor keterlambatan yang menyebabkan kematian ibu dan adanya kesempatan memilih tempat persalinan pada ibu hamil trimester III di Puskesmas Depok I Sleman, maka penulis ingin melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil trimester III dalam merencanakan tempat persalinannya. 


    Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :
    DOWNLOAD dengan Freakshare
    • Download BAB I
    • Download BAB II
    • Download BAB III
    • Download BAB IV
    • Download BAB V
    • Download Daftar Pustaka




      Read more

      TATA CARA PEMESANAN SKRIPSI - TESIS LENGKAP

      1. DAFTARKAN FORMULIR VERIFIKASI PESANAN
      2. Selanjutnya Kirim SMS ke 0856 2926 356 . Format Isi pesan : "Judul _ spasi _Sumber: [Sendrooms] atau [paNRoom]"
      3. BIAYA DONASI PEMBAYARAN
      4. Setelah biaya pemesanan dibayar, anda harus melakukan konfirmasi melalui SMS ke 0856 2926 356 bahwa anda telah melakukan transfer ke Bank BNI No.Rek.0184 734 644 , atas Nama Herry dan Sertakan Alamat Email Anda (PEMESAN) sebagai tujuan pengiriman file skripsi yang akan kami tuju.
      5. File skripsi akan segera dikirimkan ke alamat email anda, setelah proses pembayaran dan konfirmasi SMS telah kami terima.
      6. DAFTAR FORMULIR /Sign up Now / REGISTER NOW untuk pendaftaran secara GRATISS .....
      Job at home

      Job at home

      Whether you are looking for a succeed work at home or whether you dream about getting income online; yes, in the end, you located it!

      Have economic independence

      No computer skills needed. You can be completely new to manage our system - you don't need ANY experience. This is actually easy.

      You may stay at room and work at your free time. Even if you don't have pc you may do this work in Online cafe or on Internet cell phone.

      How it works?

      We design a online-shop for you with ready to operate e-commerce solution. Your work is very simple; you have to submit material about your web-store to the Internet directories. We will provide you with very simple step-by-step instruction how to do this. The typical instruction requests you to open a web site and fill in a form with data regarding your internet-store and software.

      You will be paid from US $20.00 to US 180.00 for any purchase which is comes via your web-shop.

      There is no restriction for your revenue. No matter where you live your commissions are 100% guaranteed.

      Sign up Now...

      Register now to get economic freedom. All you need is the simple: register now and havepersonal internet company!

      powered by
      Socialbar